Perlawanan Bermartabat Pejuang PJKA dan Petugas Kereta

“Perlu kita sepakati, lorong lantai kereta harus bersih dari manusia (tidur), dan kolong lantai Wajib steril dari sampah-sampah bekas alas (tidur) semalam”, ujar Pak Stefanus, Panglima PJKA, melalui kawat online yang diagitasikan di salah satu forum group whatsApp (WA).

Berawal dari sebuah foto yang diunggah ke group WA Jamaah Penggede KAI beserta kawan-kawannya oleh pihak yang “sangat akrab” dengan para Pejuang PJKA, permasalahan ini kembali mencuat. Dalam foto tersebut ditampilkan beberapa orang, segelintir Pejuang PJKA sedang merajut mimpi di tempat yang dinilai mengganggu ketertiban umum, tidur di lorong lantai kereta. Lorong di sini adalah jalan diantara dua shaf kursi, digunakan untuk mobilisasi para penumpang, petugas, dan penjaja makanan keliling.

Sudah sejak lama, KAI mensosialisasikan larangan tidur di lantai-latai kereta melalui sejenissticker yang ditempelkan di dinding-dinding kereta, semenjak banyaknya keluhan pengguna kereta yang disampaikan melalui jalur-jalur resmi layanan pelanggan yang disediakan KAI. Keluhan tersebut lebih substantif di-objek-kan kepada para lorongers dan panelers, sebutan untuk kawan-kawan Pejuang PJKA yang memilih tidur di lorong dan di bawah terminal box panel saklar listrik gerbong kereta.

Sejak aturan tanpa berkekuatan hukum tersebut dilecutkan, memang Kondektur kereta dan Polsuska akan langsung menegur dan meminta para pelanggar tersebut untuk kembali ke kursi masing-masing. Para terdakwa pun demikian, tidak ambil pusing untuk kembali menempati kursinya meski dengan mimik wajah kaget tanpa klimaks, ada kala dibangunkan dari satu mimpi tentang beribu buah kesempatan untuk bisa berkumpul dengan istri dan anak tercinta di kota dan rumah yang sama, setiap malam, selepas menunaikan kewajiban mencari nafkah penghidupan.

Atas pemberlakuan aturan tersebut, pihak KAI melalui Kondektur dan Polsuskanya, lebih bisa mentolelir kepada kawan-kawan Pejuang PJKA yang memilih ideologi ‘kolongers‘, yaitu aktivitas tidur di lantai kereta dengan menempati lorong bawah kursi. Baik kolongers ber-madzhabkonservatifisme-horizontal, yang tidur membujur lurus tepat dibawah rongga diantara dua kursi dengan seluruh badan terlihat lekuknya, maupun aliran modernisme-vertikal yang menempatkan kepala di bawah kursi dan meletakkan kakinya di bawah kursi yang ada di depannya, sehingga kawan lain yang tetap duduk di kursi tidak akan benar-benar mengetahui wajah manis kawan kolongers nya ketika tertidur. Tentu saja sebelum mulai ngolong, telah terjadi kesepakatan lisan dari semua pihak antara penumpang yang berada di satu blok kursi yang saling berhadapan tersebut. Bersepakat untuk saling meridhoi.

Apalah lacur? Badai kembali datang tanpa diundang, kali ini dengan kuasa yang lebih kencang. Ya, dari foto-foto yang di-upload di group WA yang didalamnya berisikan para penggede KAI beserta orang berkuasa di anak perusahaannya, kaum kolongers terkena getah yang tiada nikmat. Perusahaan memukul rata, tanpa memandang bulu terhadap siapapun yang tidur di lantai-lantai kereta akan ditindak tegas. Ditambah sekitar sebulanan setelah foto beberapa oknum Pejuang PJKA tersebut diunggah, ada keluhan dari sebuah akun penumpang KA kepada twitter resmi milik KAI tentang pertanyaan masih boleh atau tidaknya tidur di lantai kereta. Waktu itu, para kolongerstetap nekad beraksi, termasuk satu pemuda yang sepertinya ditakdirkan hampir selalu bersebrangan dan tidak pernah akur dengan atasan di instansinya. -Aku sendiri-. “Karena bagiku telah jelas, kebenaran dan penghormatan atas manusia harus dijunjung tinggi. Kalau pun aku kalah, tak akan kubiarkan engkau menang dengan mudah, minimal ada adu pinalti, lah”.

Dari laporan paling akhir melalui kawat twitter itu, setelah berselang beberapa hari, KAI akhirnya menerbitkan peraturan tertulis di bawah payung Surat Keputusan Direksi tentang pelarangan tidur dan/atau duduk di lantai-lantai kereta dengan dalih kenyamanan dan keamanan bersama. Tiada disangka, sanksi atas pelanggaran yang dilakukan sangatlah keras, diturunkan di stasiun pada kesempatan pertama setelah dua kali peringatan tanpa ada pengindahan. Innalillah.

Malam itu, SK Direksi tersebut dikampanyekan melalui corong speaker yang ada di tiap gerbong sebelum kereta kebanggaan kami berangkat dari sebuah stasiun di Jakarta Pusat. Bahkan, kalimat “akan diturunkan di stasiun pada kesempatan pertama” dilesatkan tanpa ada bubuhan kalimat lain di awal atau akhir yang menerangkan untuk dilakukan tindakan peringatan terlebih dulu. Dari salah satu group WA PJKA ditampilkan perwakilan Pejuang melakukan negosiasi dengan penuh kehangatan. Petugas kereta pun berlaku sama, tidak ada yang saling bersikap arogan, mendengar dan menanggapi dengan bonus senyuman. Ah.. Alangkah asyik-nya ketika manusia saling memanusiakan manusia-manusia yang lain. Tidak ada penganiayaan kehidupan dengan dalih dan alasan apapun.

Tidak ada hasil kesepakatan yang jelas setelah penampilan panggung atas proses negosiasi tersebut. Secara pribadi, kami sadar bahwa saudara-saudara petugas hanya melaksanakan perintah berdasarkan aturan resmi perusahaan. Apalagi dari kejadian-kejadian sebelumnya, pihak perusahaan sering kali menimpakan risiko atas terjadinya suatu pelanggaran dan/atau ketidak-benaran kepada para petugas di lapangan. Taruhannya tidaklah ringan dan main-main, masa depan karir petugas yang bersangkutan. Tentu saja bagaikan buah simalakama, dampaknya ke nasib periuk nasi keluarga. Kami, Pejuang PJKA sudah selayaknya tetap berlaku adil sejak dalam pikiran, mencoba menempatkan diri pribadi pada posisi mereka.

Dan setelah beberapa saat, datanglah informasi melalui salah satu group WA Pejuang PJKA seperti dituliskan pada kalimat pembuka diatas. Lorong jalan dan di bawah panel listrik gerbong kereta tempat mobilisasi massa harus steril dari manusia yang tidur terlentang. Sedangkan kolong di bawah kursi harus kembali bersih dari sampah setelah kawan-kawan kolongers beristirahat dalam lelahnya. Kawan-kawan kolongers dengan sadar diri tetap bersiap untuk kembali menempati singgsananya jika ada teguran dari petugas. Yang ahli bermain kata dan logika bersiap mengalah. Yang ahli hukum sebisa mungkin tetap mengindahkan teguran tanpa sok-sok’an berdebat terkait legalitas aturan yang telah diterbitkan.

Sebuah hasil dari proses tawar-menawar yang mengambil jalan tengah, semua saling menghormati. Tidak ada yang kalah, kedua belah pihak, baik para Pejuang dan petugas memperoleh kemenangannya. Sebuah kemenangan hati dari manusia-manusia yang tanpa kenal kata menyerah untuk selalu memperjuangkan keyakinan dan martabat sesamanya.

Pada akhirnya, Aku menyadur dan sedikit mengubah dialog terakhir antara sosok Minke dan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia -nya Pram:

“Kita kalah, Pak Stef”

“Kita dan petugas telah berjuang, Cak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”

===============================================================

Di Sebuah Kereta, 9 April 2017

SBN

http://akusulthon.blogspot.co.id/2017/04/perlawanan-bermartabat-pejuang-pjka-dan.html

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*