Nasi Gobal-gabul Ala Cirebon

Warung Nasi Gobal-Gabul di Stasiun Cirebon Prujakan

Sesuai dengan judulnya, kali ini saya ingin bercerita tentang Nasi Gobal-Gabul. Entah bagaimana awal mulanya makanan tersebut dinamakan seperti itu, namu demikianlah teman-teman yang biasa naik KA. Brantas relasi Pasar Senen (PSE) – Kediri sering menyebutnya. Seperti biasa selepas pasar senen teman-teman rombongan sudah mulai titip “Nasi Gobalgabul” kepada koordinator. Seorang koordinator biasa-nya dibantu oleh seorang atau lebih Deputi pelaksana.
Biasanya titipan ini ditutup ketika Kereta Brantas masuk ke stasiun Haurgeulis, tujuannya agar pemilik warung mempunyai waktu untuk mempersiapkan pesanan nasi kita.
Nasi ini sebetulnya biasa saja seperti nasi biasa, atau nasi rames biasa. Lauk-nya pun kita bisa memilih : Telor Dadar, Telor Bulat, Rendang, Peyek Udang.

Koordinator pemesanan Nasi Gobal-Gabul adalah individu yang sudah teruji mumpuni kemampuan-nya dalam mengkoordinasi, mempunyai ingatan yang baik, teliti, dan tentu saja amanah.

List Pemesanan Nasi Gobal-Gabul
List Pemesanan Nasi Gobal-Gabul dikoordinasikan dalam grup Whatsaapp.
Rekapitulasi Pemesanan dikomunikasikan kepada penjual.
Rekapitulasi Pemesanan dikomunikasikan kepada penjual.

Dalam sebungkus nasi tersebut sudah ada komposisi sayuran yang berisi : Nasi, mie goreng, kikil sapi, kerang, acar, kuah gulai. Standar saja kan sebenarnya? Namun yang membuat spesial itu adalah kebersamaan kami saat makan bersama dan saat mengambil pesanan nasi kami ke sebuah warung yang ada di stasiun Prujakan Cirebon. Setelah selesai titipan rombongan terakomodir, koordinator akan merekap jumlah nasi berdasarkan jenis lauknya kemudian akan mengirimkan pesan singkat kepada pemilik warung di Cirebon Prujakan.

Nasi Gobal-Gabul dengan Lauk Rendang (Foto: M.Zaky)
Nasi Gobal-Gabul dengan Lauk Rendang (Foto: M.Zaky)

Selepas Stasiun Jatibarang, koordinator akan merapat ke gerbong 2 atau gerbong 3 untuk persiapan turun di Prujakan. Kenapa harus ke gerbong 2 atau 3? Karena gerbong tersebut memiliki jarak yang lebih dekat ke warung tempat kami pesan nasi. Ini menariknya, sebelum kereta berhenti sempurna yang bertuga mengambil nasi bergegas turun kereta, tentunya dengan keterampilan dan timing yang tepat (jangan ditiru kalau tidak memiliki keahlian untuk membaca timing yg tepat). Lalu berlari menuju warung karena waktu berhentinya kereta tidak bisa diprediksi. Setelah transaksi selesai, maka nasi yang ditunggu rombongan pun segera di bawa ke dalam kereta dan siap untuk diambil oleh rombongan yang titip Nasi Gobal-gabul ala Cirebon.
Nasi tersebut biasa dibawa ke tempat duduk koordinator, kemudian rombongan yang titip akan mendatangi kursi tersebut untuk mengambil dan menyerahkan uang sesuai nasi yang dipesan.
Koordinator tidak mengambil untung dari harga yang diberikan oleh pemilik warung, harga dari warung sama dengan harga yang harus dibayar oleh teman yang titip nasi tersebut. Justru ada kalanya koordinator harus “nombok” karena kadang dari pemilik warung berlebih jumlahnya dan hitungannya. Namun sang koordinator tidak pernah mengeluhkan dan tidak pernah jera untuk dititipi nasi gobal gabul ala cirebon.

Koordinator tidak mengambil untung dari harga yang diberikan oleh pemilik warung, harga dari warung sama dengan harga yang harus dibayar oleh teman yang titip nasi tersebut. Justru ada kalanya koordinator harus “nombok” karena kadang dari pemilik warung berlebih jumlahnya dan hitungannya.

Koordinator
Koordinator Pemesanan dibantu oleh Deputi.
IMG_20160401_195912
Pengambilan pesanan nasi di tempat duduk koordinator.
IMG_20160401_200104
Salah satu anggota PJKA tampak asyik menikmati nasi Gobal-Gabul.
IMG_20160401_200010
Salah satu anggota PJKA tampak asyik menikmati nasi Gobal-Gabul.

Mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa sih harus di Cirebon? Kenapa sih harus turun kereta? Resikonya kan bisa ditinggal kereta, bisa jatuh terpeleset dari kereta padahal di dalam kereta sudah ada yang namanya RESKA?
1. Dari segi Harga, Nasi Gobal-Gabul lebih murah dari pada nasi yang dijual di dalam kereta api.
2. Dari segi Lauk, Nasi Gobal-Gabul lebih banyak pilihan dari pada yang dijual di dalam kereta api.
3. Dari segi Rasa, jauh lebih enak dan jauh lebih nikmat dari pada yang dijual di atas kereta api.
4. Dari segi Porsi, Nasi Gobal-Gabul porsinya jauh lebih banyak.
Itulah alasan kenapa kami rombongan yang naik KA Brantas lebih memilih nasi gobalgabul ala Cirebon. Jika anda penasaran dengan nasi gobalgabul tersebut, silahkan mencoba saat naik kereta api jalur utara dan rasakan sensasinya.

Salam Paseduluran Sak Lawase,
Fajar Sujatmiko

Facebook Comments
About Mas Admin 41 Articles
|Admin Paguyuban PJKA | | Yang bertugas melakukan posting atas artikel dari non-kontributor |

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*