Hak Jawab dari Novan Seputar ‘Asongan Online’

Melalui email yang dikirim kepada salah seorang anggota Paguyuban PJKA, Sdr. Eko Triyanto, dan di-forward ke email pejuang.pjka@gmail.com, Sdr Novan, pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang namanya disebutkan dalam artikel dari tautan berikut Penumpang KA Brantas Dituduh Menjadi ‘Asongan Online’, menyampaikan Hak Jawab dengan judul Klarifikasi Kronologi Kejadian di KA Brantas Tgl. 11 Maret 2016. Berikut selengkapnya:

Klarifikasi Kronologi Kejadian di KA Brantas Tgl. 11 Maret 2016

             Perkenalkan nama saya Novan, pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang namanya disebutkan dalam artikel dari tautan berikut. Menindaklanjuti tulisan tersebut, berikut saya sampaikan kronologis kejadian yang sebenarnya menurut pandangan saya selaku petugas dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) agar menjadi pertimbangan untuk meluruskan masalah tersebut. Insya Allah, kami menulis kronologis kejadian dengan sejujurnya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Namun keputusan saudara untuk menggunakan tulisan ini sebagai bahan pertimbangan atau tidak, itu adalah hak anda.

Kejadian dimulai pada tanggal 11 Maret 2016 silam saat perjalanan KA Brantas relasi Jakarta-Kediri sedang berlangsung. Saat perjalanan, kedua rekan anda dibawa ke kereta Restorasi oleh rekan Polsuska dan rekan prami Reska untuk dimintai keterangan terkait kecurigaan sebagai pelaku pedagang asongan di kereta. Yang dimaksud dengan pedagang asongan adalah pihak yang melakukan transaksi jual beli makanan, minuman maupun barang lainnya di kereta selain pihak PT. Reska yang berhak menjual makanan dan minuman selama perjalanan di kereta. Tindakan ini wajar dilakukan karena sebagai petugas yang berdinas, wajib hukumnya untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama perjalanan kereta. Tindakan yang dilakukan oleh petugas adalah semata-mata sebagai upaya pencegahan atau preventif terhadap adanya upaya pelanggaran peraturan. Apabila saudara dan rekan-rekan penumpang merasa tidak nyaman atas tindakan yang dilakukan oleh petugas, kami mohon maaf atas kekurangannya dan akan menjadi evaluasi kami untuk perbaikan ke depannya.

Awalnya saya hanya duduk dan mendengarkan permasalahan yang ada, namun kemudian oleh rekan Polsuska saya dimintai pendapat terhadap permasalahan ini. Setelah saya tanyakan keterangan oleh masing-masing pihak, saya mendapat gambaran bahwa rombongan PJKA berniat untuk membeli makanan di Stasiun Cirebon Prujakan dengan menitipkan kepada ketua rombongan namun rekan saudara sebagai ketua rombongan dicurigai oleh rekan polsuska sebagai pedagang asongan di kereta. Menanggapi situasi tersebut, saya berkomentar seperti ini:

“Bapak belum tentu salah (artinya : tuduhan terhadap rekan bapak belum tentu terbukti) namun sebaiknya bapak jangan melakukan hal itu karena bisa jadi modus atau alasan untuk orang lain (artinya : oknum tertentu) untuk melakukan kegiatan jual beli dengan dalih seperti itu (artinya : modus jual beli di kereta dengan dalih titip menitip). Di kereta sudah ada yang menyediakan makanan, silahkan beli dari restorasi atau kalau mau beli di luar lebih baik beli masing-masing. Apabila sudah banyak yang melakukan hal itu (modus jual beli di kereta dengan dalih titip menitip), bukan tidak mungkin akan dikeluarkan peraturan dilarang membawa makanan dan minuman dari luar”.

Dalam pernyataan itu saya menganjurkan kepada rekan anda agar tidak melakukan kegiatan titip menitip karena dapat menimbulkan modus pedagang asongan liar. Tidak ada sama sekali melakukan penuduhan terhadap rekan anda dan perlu saya tekankan bahwa maksud saya mengatakan larangan membawa makanan dan minuman adalah kemungkinan konsekuensi yang dikeluarkan perusahaan apabila sudah banyak pedagang asongan illegal di kereta dengan dalih titip menitip. Sangat disayangkan bahwa kalimat saya hanya dikutip sebagian sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda.

Menanggapi kalimat saya, rekan anda menjawab sebagai berikut:

“Kalau begitu itu namanya pelanggaran hak asasi manusia. Fungsi kereta sudah bukan lagi menjadi pelayanan publik.”

Kemudian saya jawab lagi dengan berkata:

“Kalau sudah seperti itu, kalau mau naik kereta silahkan ikuti aturan kalau tidak ya silahkan tidak usah naik kereta.”

Untuk pernyataan ini, yang saya maksudkan adalah kalau sudah ada peraturan ya harus dipatuhi, kalau tidak mau mematuhi peraturan silahkan memilih moda angkutan lain. Dalam kalimat ini, saya akui bahwa mungkin penyampaian kalimat saya kurang baik oleh karena itu saya mohon maaf atas pernyataan saya yang kurang baik.

Adapun juga saya ingin meluruskan bahwa pernyataan “Siapa bilang ga laku, pasti laku lah, yang setuju silahkan naik dan yang ga setuju ya ga usah naik kereta” itu tidak benar sama sekali.

Setelah itu pembicaraan panjang berlanjut dan menurut persepsi saya rekan anda tidak puas dengan jawaban saya dan masih keberatan dengan anjuran untuk tidak melakukan titip menitip. Oleh karena itu saya berusaha menyudahi permasalahan yang tidak kunjung selesai ini dan mencoba memberi solusi dengan berkata :

“Yah disini bukan ajang untuk berdebat, percuma mendebat ke kami karena kami hanya menjalani aturan yang ada. Kalau tidak puas dengan aturan kami, silahkan adukan ke bagian pelayanan di Stasiun Prujakan.”

Di sini saya tekankan memang kami bukan ingin memulai berdebat, kami menyampaikan aturan yang ada dan memberi anjuran untuk menyelesaikan masalah. Apabila anda tidak puas atas aturan kami atau tindakan kami, silahkan ajukan komplain ke bagian pelayanan. Terdapat customer service di tiap stasiun besar yang siap menerima keluhan pelanggan. Apabila pihak customer service tidak dapat menyelesaikan masalah, maka akan dilaporkan ke pihak manajemen untuk ditindaklanjuti. Sekali lagi saya tekankan memang tidak ada niat untuk berdebat. Apabila rekan anda menganggap kami berusaha berdebat, saya tidak tahu dan saya tidak mau menuduh.

Demikian kronologi kejadian tersebut menurut pandangan saya serta rekan polsuska dan petugas lainnya yang berdinas di KA Brantas. Silahkan dipertimbangkan kronologi kejadian dari kedua sisi untuk dapat menemukan solusi atas permasalahan yang ada.

Apabila surat ini dianggap kurang memuaskan, silahkan mengajukan komplain sesuai prosedur ke pihak Customer Service seperti yang telah saya sebutkan di atas. Sangat disayangkan apabila keluhan disampaikan dengan membuat artikel di internet dan menyebarluaskannya hanya berdasarkan opini pribadi.

Terima kasih atas perhatiannya.

Best Regards,

Novan

*Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

Facebook Comments
About Mas Admin 41 Articles
|Admin Paguyuban PJKA | | Yang bertugas melakukan posting atas artikel dari non-kontributor |

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*