Catatan Perjalanan Bengawan, 20 Maret 2016

Tepat pukul 14.30 Kereta Bengawan di berangkatkan dari stasiun Purwosari, melalui  jalur 3. Kami sangat hafal dengan jalur ini karena setiap ahad tidak pernah sekalipun kami diberangkatkan dari jalur lainnya, padahal masih ada 6 jalur sisanya lagi. Ups banyak juga ya jalurnya. Karena stasiun ini merupakan stasiun persimpangan dari arah Yogyakarta menuju Surabaya dan menuju Wonogiri. Dan stasiun pertama yang dibuat di Surakarta oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij tahun 1875.

Menunggu di atsiun klaten
Menunggu di atsiun klaten

Bengawan berjalan mulus menyusuri rel double track jalur Solo Balapan  -Kutoarjo, ketika tiba di stasiun Klaten, menaikkan penumpang dari kabupaten Klaten yang berpenduduk 1,14juta jiwa itu. Hanya sayangnya stasiun Klaten tidak melayani refund tiket kereta api. Penumpang Klaten di haruskan ke stasiun lain di Jogja atau di solo. Mesakke tenan yo. Salah satu penumpang dari stasiun ini yang saya kenal sangat baik adalah Pak Joko Thole, sampai sekarang saya belum faham kenapa ada tambahan Thole di belakang nama Joko, mudah-mudahan ketika beliau membaca tulisan ini segera memberi tahukan kepada kita semua kenapa ada tambahan “Thole” itu. Pak Joko Thole mencari-cari saya untuk ikutan foto yang katanya untuk dimasukkan dalam laporan perjalanan kereta api pekan ini.

Seperti biasanya ketika Bengawan tiba di stasiun Lempuyangan yang dibangun tahun 1872, melewati jalur 2 sudah dinanti oleh ratusan penumpangnya, Peron jalur 2 terlihat sesak oleh penumpang, saya menaksir 60% penumpang  Bengawan berangkat dari stasiun ini atau lebih dari 500 orang. Setelah dari lempuyangan ini kereta kelihatan penuh dan hanya menyisakan sedikit sela pada bangku-bangkunya. Yogyakarta memang gudangnya penumpang Kereta Api terutama tujuan Jakarta. Jika dibandingkan dengan kota kembarannya Solo, pastilah penumpang dari Jogja jauh lebih banyak, apapun keretanya. Mungkin ini juga yang menyebabkan bis malam lebih banyak di Solo dibanding di Jogja, perlu kajian lebih lanjut.

Sebelah kanan bengawan berhenti, lampu kereta krakatau dari arah depan

Si Naga besi Bengawan kemudian singgah di Stasiun Wates, stasiun ini banyak dikeluhkan penumpangnya, di samping tidak bisa refund tiket, di sinilah salah satu stasiun yang peron nya tidak beratap, sehingga jika musim hujan calon penumpang yang akan naik kereta musti berbasah-basahan di guyur hujan, sekitar 50 orang penumpang naik dari stasiun Wates. Bertambahlah beban Bengawan, namun masih cukup kuat karena di tarik oleh lokomotif CC201, buatan General Electric yang berkekuatan 1950 HP.

Persinggahan berikutnya adalah stasiun Kutoarjo, lalu Kebumen, kemudian berhenti agak lama di stasiun Kroya saat Maghrib tiba karena persilangan dengan Kereta Api Krakatau dari arah Barat, hal ini disebabkan pemakaian rel yang harus bergantian sebab jalur Kutoarjo-Purwokerto yang masih single trak. Pemberhentian sekitar 15 menit bisa dipakai oleh penumpang untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di  Mushola stasiun Kroya, namun perlu berhati hati saat melintas, jangan sampai karena tergesa-gesa dari selesai sholat menuju kareta bengawan justru di cium kereta Krakatau yang memang tidak berhenti di stasiun Kroya.

Para sobit dan sobatSelepas stasiun Kroya tibalah kami mengeluarkan nasi bungkus, nasi kotak, kue-kue, buah-buah untuk melakukan makan malam bersama. Kebanyakan dari kami memakan hasil masakan istri tercinta dari Rumah, dan yang belum sempat membawa bekal biasanya membeli warung di stasiun. Jarang sekali yang membeli dari Reska (Restoran Kereta Api),  menurut kami lebih nikmat masakan istri dan juga agar lebih hemat karena uangnya buat beli tiket tiap jumat dan ahad.

Setelah kereta sampai di Stasiun Purwokerto ada beberapa penumpang yang turun, dan beberapa lagi yang naik. Ritual berikutnya adalah “nglipus”, karena sudah tidak ada lagi penumpang yang naik, dan juga perut sudah terisi. Dan sayapun sudah tidak bisa melaporkan lagi tulisan ini. Karena saya tertidur pulas, walaupun leher “cengeng” karena sebelah saya kali ini tidak tidur di lantai. Dan laporan inipun berakhir dengan berakhirnya Bengawan tiba di stasiun Jatinegara pada pukul 00.21 wib. Alias molor dari jadwal semestinya 23.47 wib.

  makan malam

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*