Penumpang KA Brantas Dituduh Menjadi ‘Asongan Online’

Aneh sebetulnya dengan judul ini, tapi inilah kenyatan sebuah istilah yang dikeluarkan oleh Anggota Penguasa “Permakanan” dalam kereta atau istilah kerennya Reska.

Pada perjalanan hari Jumat (11/3) sore di kereta api Expres Malam Brantas (begitu setiap kali di umumkan di dalam gerbong melalu pengeras suara), seperti biasa, kami selalu absen dalam sebuah group untuk “titip” makan yang biasa kami sebut “Nasi Gobal-Gabul” ala Cirebon. Kebetulan pada hari itu banyak rombongan kami yang karena satu kondisi tertentu tidak dapat pulang ke kampung ataupun terpaksa pulang lebih awal, hingga titipan nasi hanya sebanyak 9 bungkus.

Setelah sesi titip berakhir, seperti biasa saya berkeliling dari kereta 1 sampai dengan kereta 8 untuk memastikan titipan dan mengambil uang nasi sesuai dengan pesanan. Saat berjalan ke gerbong asal, di dalam sebuah gerbong kereta yang isinya banyak petugas dari penguasa kereta dan penguasa “Permakanan” (sebut saja restorasi), kami dihentikan petugas berseragam hitam-hitam dan diminta duduk di salah satu seat pada kereta tersebut.

Perasaan sudah mulai tidak enak karena ada salah satu anggota Reska (sebut saja “Si Kumis”). Dia bilang, “Ini orangnya Pak yang suka keliling dari gerbong 1 sampai 8 untuk menawarkan makanan”. Spontan teman saya menjawab “Saya tidak menawarkan makanan kok Pak. Mereka hanya titip kepada saya. Ini kan rombongan apa salahnya saling bantu, dan ini sudah biasa.”

Kemudian si Kumis menimpali, “Memang sekarang sudah tidak ada asongan lagi, yang ada ASONGAN ONLINE.”

Saya pada saat itu hanya diam sambil saya catat apa kata-kata mereka. Datang lagi satu teman mereka, saya kurang tahu siapa namanya tiba-tiba datang dan berkata kepada teman saya, “Kamu kan yang minggu kemarin sempat crash/bentrok dengan teman saya?” Spontan saya yang tadinya hanya diam, lalu berkata “Teman saya minggu kemarin ga pulang pakai Brantas lho pak.”

Akhirnya dia bilang, “Ya ga tau kapan yang penting pernah bentrok lah.”

Pada debat kusir di atas kereta restorasi tersebut ada salah satu sosok yang saya soroti. Menggunakan baju putih, celana biru tua dan lengkap dengan atribut perusahaan yang mengurusi tentang Kereta. Orang tersebut terkesan menuduh kami ini asongan yang mencari nafkah dari jualan nasi. Karena geregetan dengan apa yang dia bilang, akhirnya saya bilang “Kami ini rombongan, dalam satu minggu kami bermalam 2x di dalam kereta dengan orang yang sama, kita saling bantu teman-teman untuk membelikan nasi saja.”

Si baju putih itu pun bilang “Iya saya tahu, kadang orang berbuat baik itu harus tahu tempat. Di dalam kereta kan sudah ada makanan, kenapa tidak beli saja di dalam? Bisa saja nanti akan kami keluarkan peraturan DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DI DALAM KERETA.

Mendengar pernyataan itu teman saya berkata, “Kereta tidak akan laku Pak kalau seperti itu.” Saya pun menambahim, “Lho itu kan melanggar hak asasi kami, ini kan kereta jarak jauh.”

Si petugas ber-baju putih pun berkata “Siapa bilang ga laku, pasti laku lah, yang setuju silahkan naik dan yang ga setuju ya ga usah naik kereta.”

Saya bilang, “Lho kalau begitu namanya otoriter donk?” Di sini saya mulai naik darah dengan mencoba mematahkan apa saja yang dia argumenkan. Karena apa yang dia ucapkan tidak ada dasarnya. Dia hanya bilang, “Ada peraturannya” dan saya jawab “Setiap peraturan itu harusnya tertulis.”

Si Baju Putih
Foto: Si Baju Putih dalam perjalanan KA Brantas 11-Mar-2016

Karena sudah tidak bisa mengimbangi (mungkin), akhirnya sang petugas berseragam putih itu berkata, “Yah di sini bukan ajang untuk debat, percuma anda debat di sini jika ingin debat nanti di Prujakan silahkan ke bagian pelayanan.”

Hellow mas Bro….. Anda yang memulai perdebatan dan anda yang bilang di sini bukan tempat debat. Akhirnya sesi debat, saya bilang ke mereka “Saya mau shalat dulu pak biar ga salah paham” lalu kami pun kembali ke tempat duduk untuk shalat Maghrib.

Karena sudah mendapat amanah dari teman-teman, titipan “nasi gobal-gabul” tetap berjalan dengan strategi lain, yaitu teman lainnya yang mengambil dan membagikan kepada teman yang sudah titip.

Inilah catatan perjalanan Brantas yang penuh dengan adrenalin dan penuh dengan sebuah cobaan yang menguji kesabaran.

Salam Paseduluran Sak Lawase.

Penulis: Fajar Sujatmiko (dengan sedikit penyesuaian oleh Mas Admin)
Korban tuduhan asongan online

Baca juga: Hak Jawab dari Novan Seputar ‘Asongan Online’ (update tanggal 22 Maret 2016, Pukul 15.27 WIB)

Gambar Cover:
http://www.maksindo.com/wp-content/uploads/2016/02/Peluang-Bisnis-Nasi-Bungkus-dan-Analisa-Bisnisnya-maksindo.jpg

Facebook Comments
About Mas Admin 41 Articles
|Admin Paguyuban PJKA | | Yang bertugas melakukan posting atas artikel dari non-kontributor |

11 Comments

  1. Sekarang yg moduz diatas kereta banyak… Beli kopi/teh 1 gelas tp duduknya di kereta makan bisa 3 jam, begitu disuruh kembali ke tempat duduk aslinya langsung tulis di FB…

  2. perusahaan yg target profit oriented, mengejar keuntungan krn ud ga di subsidi sm pemerintah, mangkanya restorasi hrga nya mahal2, mangkanya murahin donk pak makanan dan minumannya, semua hrga dipukul rata utk semua kelas kereta…fight arogansi officer
    saya sbgi pembaca ikut salut terhadap komunitas ini, meski bkn penglaju ttpi bs merasakan persaudaraan yg kental dlm komunitas ini. slam seduluran dri Surabaya

  3. wedew nasi gobal gabul on news , nih harusnya tanya ke pakar nasi gobal gabul mas keo cah darjo , memang awalnya dicetuskan nasi gobal gabul itu tujuannya apa ? sampai reska dan petugas yg kurang bijaksana sampai kebakaran jenggotnya…ck ck..joss…lanjutkan semangat gobal gabul di brantas, supaya penumpang bisa makan dengan enak dan harga terjangkau…salam pjka

  4. Restorasi makannya mahal2 plus g enak qo mnta laris dagangannya, ya wajar klo pd beli makanan / bawa makanan dr luar, inget wahai petugas kereta, kami disini bayar tiket, alias nggaji sampeyan2 jd jgn seenaknya!

  5. Reska n KAI ini emang maruk, di luar PSO tiket KA itu tergolong mahal. harga tiket KA ekonomi bisa dpt bus eksekutif , sedangkan tiket KA eksekutif bs dpt pesawat walau ekonomi. Mbok ya mikir gitu, jgn cuma mentingin untung. Nasi dg harga 25-30rb tapi rasa n porsinya kurang memuaskan. Sy naik KA cuma pas lebaran, kalo tiap bulan komuter sy pilih bus. KAI n reska, please mikirrrrrrrr.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*