Pejuang Baret Kuning Kunyit

(Gambar: Anggota Paguyuban PJKA di Stasiun Kutoarjo)

Hidup menjadi seorang PJKA adalah sebuah pilihan nekat, sehingga tak banyak orang yang memilihnya untuk dijadikan jalan hidup. Konsekuensi tak ringan nan berliku dengan berbagai tantangan menjadi paket pelengkap pilihan itu. Bagaimana tidak, setiap minggu, ribuan kilometer harus mereka lalui untuk memangkas kerinduan bersama keluarga di kampung halaman, dan untuk memastikan sang buah hati tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang. Tetapi, menjadi seorang PJKA tak hanya butuh nekat, perlu perhitungan matang dan keyakinan kuat.

Bagi saya, seorang PJKA itu adalah manusia di atas rata-rata. Sedikit saja kita ambil contoh, setiap minggunya jarak yang akan mereka tempuh untuk pulang-pergi jakarta-solo adalah sekitar 1.000 km (4.000 km dalam sebulan/ 48.000 km dalam setahun). Jika jarak rata-rata antara Bumi dengan Bulan adalah sekitar 384.400 km, maka akumulasi perjalanan mereka dalam waktu 8 taun bisa sebanding dengan jarak tersebut. Bayangkan merek yang telah menjadi PJKA selama 32 taun, artinya mereka telah 2x PP Bumi-Bulan, hehee…

Itu baru dari sisi jarak, bagaimana dengan waktu yang mereka ‘korbankan’? Tidak jauh beda, rata-rata waktu tempuh Jakarta-Solo menggunakan kereta api adalah lebih dari 9 jam, kita bulatkan menjadi 10 jam (dengan tambahan asumsi mampir ngopi dan ngehik dulu). Jika sekali perjalanan 10 jam, maka selama sebulan waktu yang mereka habiskan di jalan adalah sekitar 80 jam (4x PP sebulan) atau 960 jam setahun. Artinya, dalam 1 taun mereka akan mengalami kehidupan di dalam kereta api selama 40 HARI (960 jam : 24 jam).

Berdasarkan keistimewaan tersebut, mungkin terlalu berlebihan jika saya menyandingkan kemampuan di atas rata-rata para PJKA’er dengan para anggota militer. Tetapi 1 hal yang menjadikan mereka tampak sama adalah, tujuan dan tekad mereka. Militer; menjaga keutuhan NKRI. PJKA’er; menjaga keutuhan rumah tangga. ˆ.ˆ

Pasukan TNIAD
(Gambar: Barisan pasukan TNI berjalan di atas rel)

Selain itu, banyak kemiripan lain antara militer dengan PJKA’er. Jika militer memiliki 3 matra (TNI AD, AL dan AU), PJKA’er pun memiliki 3 matra (naik darat, laut dan udara), yang pastinya sesuai dengan kantong dan pilihan masing-masing PJKA’er. Dan matra dengan pasukan PJKA’er terbanyak adalah matra darat, lebih tepatnya pasukan kereta api.

Dalam TNI AD terbagi lagi atas 15 jenis korps. Korps adalah satuan badan atau organisasi yang dibentuk berdasarkan keahlian dan skill yang dimiliki pasukan, sehingga dapat bertugas dengan fungsinya masing-masing dan dapat saling mendukung secara tepat guna. Beberapa korps TNI AD diantaranya adalah CZI (Corps Zeni), CPN (Corps Penerbang), CPM (Corps Polisi Militer), CPL (Corps Peralatan), dll.  Dalam matra darat PJKA pun juga terdiri atas beberapa korps (khususnya kereta api), korps ini terbentuk bukan karena kesengajaan, melainkan karena skill dan tipe kenyamanan tidur dari masing-masing individu. Korps dalam PJKA diantaranya adalah:

  1. CBK (Corps Bawah Kursi)
    Koprs ini terdiri dari pasukan PJKA dengan skill tertinggi, kemampuan menyesuaiakan dengan medan yang sempit dan sulit seringkali menyelamatkan mereka dari operasi gabungan pasukan baret oranye. Jumlah pasukan ini semakin bertambah banyak sejak maraknya operasi gabungan baret oranye. Jargon pasukan ini adalah “Koordinasi posisi, jangan sampai nyium kaos kaki kawan”. Nama beken dari pasukan ini adalah kolongers.

    Kolongers
    (Gambar: anggota kolongers)
  2. CLJ (Corps Lorong Jalan)
    Korps ini terdiri dari pasukan PJKA dengan tingkat keberanian tertinggi, kemampuan utama mereka adalah kamuflase untuk mengecilkan diri sekecil mungkin dan semirip mungkin dengan besi tempat duduk. Diinjak, dilompati bahkan ketumpahan kopi adalah bagian dari latihan mereka. Jargon utama yang selalu mereka pegang teguh adalah “Habis kena operasi, gelaaaar lagi”. Nama beken pasukan ini adalah lorongers.
  3. CBP (Corps Bawah Panel)
    Korps ini terdiri dari pasukan PJKA dengan jumlah sangat terbatas, hanya terdiri dari 16-18 orang setiap rangkaian. Demi bisa bergabung dengan korps ini, banyak anggota PJKA yang rela kena siku dan terbentur pintu kereta. Jargon utama pasukan beruntung ini adalah “Sebelum ditempel koran, panel masih jadi rebutan”. Nama beken pasukan ini adalah panelers.

    panelers
    (Gambar: anggota panelers)
  4. CNB (Corps Nekat di Bordes)
    Korps ini terdiri dari pasukan PJKA dengan tingkat kewaspadaan dan bahaya tertinggi. Jumlah dari anggota korps ini kian sedikit dan mendekati kepunahan, karena banyak anggota dari korps ini yang mulai beralih menjadi anggota korps lain. CNB sendiri terbagi menjadi 2 kesatuan, yaitu CBR (Corps Bordes Rata) dan CBT (Corps Bordes Tangga). Jargon mereka adalah “Semoga dia (baret oranye) lupa dengan aturannya”. Nama beken pasukan ini adalah bordesers.
  5. CTK (Corps Tidur di Kursi)
    Korps ini terdiri dari pasukan PJKA dengan jumlah terbanyak. Kemampuan istimewa yang dimiliki pasukan ini adalah mampu menyesuaikan diri bagaimanapun keadaannya. Kekuatan utama dari anggota pasukan ini adalah leher dan pundak yang kokoh, anti kecengeng. Jargon pasukan ini adalah “Semoga sebelahku lupa berangkat”. Nama beken pasukan ini adalah lungguhers.
  6. CMK (Corps Maksa Tidur di Kursi)
    Korps ini merupakan korps dengan anggota tersedikit, dan malah bisa dikatakan bukan merupakan bagian dari PJKA yang diakui. Mereka adalah pasukan sempalan yang ikut menamakan diri PJKA. Kemampuan utama mereka adalah ‘rayu-ing’ dan ‘melas-ing’. Mereka biasanya hanya memiliki 1 kursi, dan memaksakan diri bagaimanapun caranya bisa tidur di 2 atau 3 kursi. Selama ini, baru ada 1 orang yang terindikasi masuk menjadi anggota ini. Jargon pasukan ini adalah “Anda lupa duduk, kursi saya sikat”. Nama beken pasukan ini adalah ngebeters.
  7. CKF (Corps Kursi Favorit)
    Korps ini merupakan korps dengan anggota terbatas, hampir sama dengan CBP, jumlah anggota mereka hanya 16-18 pasukan per rangkaian. Keistimewaan dari pasukan ini adalah ilmu betah begadang, sabar dan doa yang kuat untuk mencari gogrogan kursi 4C atau 21C. CKF baru terbentuk setelah adalah serangan bertubi-tubi dari baret oranye. Jargon pasukan elite ini adalah “badan boleh ngolong, kepala tetap nongol”. Nama beken pasukan ini adalah fourtwentyone-C.

Tidak semua matra darat (perkereta-apian) memiliki ketujuh korps tersebut, korps tersebut hanya akan muncul pada kereta-kereta khusus, terutama kereta dengan cat bodi kuning kunyit (a.k.a kereta ekonomi PSO).
Anggota PJKA pun juga memiliki ritual bergengsi diantara mereka, jika dalam Kopassus kita kenal dengan ‘pembaretan’ yang diawali dengan Tahap Basis, Tahap Hutan Gunung dan Tahap Rawa Laut, maka di PJKA dikenal dengan ‘pemtiketan’, yang diawali dengan Tahap Nyatemi, Tahap Nyatilong dan Tahap Nyalibar.

kopassus
(Gambar: anggota Kopassus)

Tahap Nyatemi (Nyari Tiket Mingguan) adalah pemburuan tiket weekend dengan kereta-kereta favorit. Setiap anggota PJKA harus menguasai tahap dasar ini, paling tidak paham nama-nama aplikasi pembelian tiket dan nama mbak customer service yang dititipi tiket, #eehh…

Tahap Nyatilong (Nyari Tiket Long Weekend) adalah pemburuan tiket weekend dengan tambahan libur sebelum atau setelah weekend tersebut. Pada tahap ini para anggota sudah dihadapkan dengan adanya perlawanan-perlawanan sengit dari musuh dengan senjata lebih lengkap. Musuh-musuh itu biasanya mereka sebut korporasi kopet, yaitu korporasi yang mencoba membahagiakan karyawannya dengan memberikan tiket liburan menggunakan kereta api PSO.

anggota pjka
(Gambar: anggota Paguyuban PJKA Lintas Utara dalam perjalanan dengan kereta Brantas)

Tahap Nyalibar (Nyari Tiket Lebaran) adalah pemburuan untuk mendapatkan tiket kereta demi bisa makan lontong opor di rumah saat lebaran. Tahap ini merupakan tahap terberat pasukan PJKA. Pada tahap ini, pasukan diijinkan untuk menggunakan senjata apapun yang dimiliki demi bisa melumpuhkan musuh, mulai dari pinjam 4 smartphone, pakai laptop temen, bahkan rela tidur di kantor untuk dapat akses internet yang cepat. Banyak pejuang yang gugur dalam tahap ini, banyak juga yang menyerahkan diri ke musuh/ CALO.

PJKA 1
(Gambar: anggota Paguyuban PJKA berkumpul di Stasiun Pasar Senen)
PJKA 2
(Gambar: anggota Paguyuban PJKA di dalam kereta Progo)
(Gambar: anggota Paguyuban PJKA di dalam kereta Progo)
(Gambar: anggota Paguyuban PJKA di dalam kereta Progo)

Bagaimanapun perjuangan mereka dan seberat apapun beban yang harus mereka lalui, tidak akan pernah menyurutkan keinginan mereka untuk pulang bertemu keluarga. Mesti hanya bersua dalam 1 malam 2 senja, tapi terisi penuh makna dan cinta. Menyempurnakan diri menjadi seorang pasangan (suami/istri) dan memantaskan diri sebagai orangtua SEPENUHNYA. Maka, tak lebih jika saya menyebut para PJKA adalah PARA PEJUANG keluarga dengan baret kuning kunyit gagah menghiasi kepala mereka.

“Salam Paseduluran Saklawase”

========================

Dari macetnya TOL Pancoran/29-Feb-2016
Penulis: Eko Triyanto aka tumoireng

*Catatan: PJKA adalah sebutan untuk komunitas penglaju “Pulang Jumat Kembali Ahad” yang sering menggunakan akomodasi kereta api jarak jauh sebagai pilihan perjalanan dari dan ke kampung halaman.

Facebook Comments
About Mas Admin 41 Articles
|Admin Paguyuban PJKA | | Yang bertugas melakukan posting atas artikel dari non-kontributor |

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*