Mensyukuri Hidup Sebagai Penglaju PJKA

Anggota PJKA

Menjadi seorang penglaju bagi saya sudah terlalui kurang lebih selama 6 tahun, sejak awal menikah hingga dikaruniai 2 anak. Ini belum seberapa dibanding rombongan lain yang pernah saya temui dalam setiap perjalanan. Ada yang sudah puluhan tahun, sejak awal bekerja hingga tiga bulan lagi pensiun menyapa.

Mereka yang merajut persaudaraan tiap pekan dari berbagai latar belakang. Dari berbagai level dan golongan dan berbagai level kelas perkeretaapian. Namun yang membuat saya menarik ialah kegigihan penglaju dengan K3 ekonomi bersubsidi. Sejak masa BUMN ular besi ini masih belum tertata rapi hingga hari ini yang segala perubahan tercipta dengan sangat prima.

Anggota PJKA
Anggota PJKA

Dari mulai menempel uang ala kadar di atas gerbong pada bapak kondektur, melantai di bordes, gerah dan sumuk, asap rokok mengepul, kartu remi dan domino yang terbanting, lampu yang ditutup koran untuk tidur, hingga gerbong kosong penghalang di bagian belakang dijebol hanya untuk meluruskan tulang belakang sebelum esok pagi hingga jumat sore ditemani pekerjaan yang tiada henti, bahkan dahulu sebelum manajemen serapi ini, saya temui tukang urut pun bisa membuka jasa di atas kereta.

Sampai hari ini saya belum dapat jurnal penelitian tuntas untuk para penglaju yang menghidupi keluarga mereka di kampung. Baik dari sisi sosial, ekonomi, hingga politik. Sama halnya seperti saya, ada banyak pertimbangan mengapa terpaksa harus ‘menelantarkan’ keluarga dalam tiap pekannya. Ada motif biaya hidup di Jakarta yang tak sedikit, ada pertimbangan orangtua di desa yang semakin renta, ada hitungan pendidikan di desa yang lebih terjangkau dan berkualitas, ada faktor istri yang juga bekerja di tempat tinggalnya, ada banyak cerita lain yang tak sedikit untuk diucap.

Tapi ini hidup, saya tidak hanya menemui mereka para bapak kepala keluarga, tak sedikit dalam rombongan itu saya temui para wanita pekerja dengan status ibu yang telah memiliki beberapa putra putri. Gigih bekerja, mencari bahagia, lalu membagikannya saat pulang tiap pekan di tengah keluarga.

Ini waktu yang mahal, dedikasi mereka di tempat kerja adalah loyalitas sebenarnya, saya temui sepekan nafas gerak mereka hanya untuk bekerja di kantor masing-masing. Namun saat akhir pekan tiba, waktu liburan panjang bergandengan, jangan diusik waktu berharga itu. Waktu yang tak dapat ditukar dengan uang, waktu yang tak bisa diputar dengan tekanan. Karena ini soal bahagia dengan caranya masing-masing.

Sungguh, saya melihat kehidupan dari sisi yang lain, dari jarak yang bertahan untuk keutuhan cinta dengan pasangannya, dari semangat untuk menafkahi keluarga, dari jerih payah untuk membiayai pendidikan anaknya, dan dari ledakan perhatian atas orangtua yang barangkali semakin renta.

Anggota PJKA menunaikan Shalat Subuh
Anggota PJKA menunaikan Shalat Subuh

Nadi itu bernama kereta api, betapa bahagia saat akhir pekan tiba, lepas senyum dengan teman seperjalanan, sekedar tegur sapa kemarin naik kereta apa dan pekan depan pakai kereta apa, mereka berbagi strategi untuk menyiasati pekan-pekan mendatang yang tak terprediksi. Menuju ke stasiun menggunakan apa, hingga mengontrak satu kamar khusus bagi motor mereka di sebuah rumah dekat stasiun juga dilakoni.

Maka bersyukurlah pada mereka yang keluarganya sangat dekat dengan lingkaran kehidupan kesehariannya, berbahagialah karena setiap saat dapat bercengkerama dengan orang yang tersayang. Di luar sana ada orang-orang yang berjuang hanya untuk melihat anaknya menghabiskan sisa rezeki dari jerih payah hari itu di meja makan, melihat istrinya tersenyum saat sisa gas terakhir di dapur, dan melihat orangtuanya bisa dikunjungi setiap saat.

Jika hidup adalah kumpulan pertanyaan, maka kehidupan adalah rangkaian jawaban yang disertai pernyataan.

Penulis:
Rizki Aji (Guru di SMA Future Gate Bekasi)

Facebook Comments
About Brama Kumbara 14 Articles
Anggota Paguyuban PJKA Solo, Blogger, Karyawan anak perusahaan BUMN, admin paguyubanpjka.org | Bagi kamu yang punya artikel seputar kereta dan kegiatan PJKA yang ingin dimuat di paguyubanpjka.org, silahkan kirim ke Pejuang.PJKA@gmail.com dengan subjek "Artikel PJKA"

3 Comments

    • Jika anda pelaju rutin bisa on the spot tanpa ragu menyapa kami di area halaman sta Pasar Senen setiap Jumat malam. Kami berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Nanti bisa berkenalan karena kami terbuka bagi siapa saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*