Mencoba Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Kamis, 21 Januari 2016 lalu, Presiden Jokowi meresmikan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di kebun teh Mandalawangi Bandung barat. Walaupun sudah diresmikan oleh Presiden, justru saat ini terjadi polemik dalam pembangunannya. Diantaranya dikatakan belum mengantongi ijin dari Kemenhub, biaya yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan pembangunan kereta yang sama di Teheran ke Isfahan ataupun hal keekonomian bahkan sampai dampak lingkungan dan sosial.

Lah jika pembangunannya saja baru dimulai, kenapa judul tulisan ini sudah mencoba kereta cepat tersebut? “yoben”. Ben menarik judulnya. Hehehehehe. Sebenarnya saya pernah mencoba kereta cepat ini di negeri asalnya sana China sekitar 3 tahun lalu, tepatnya tanggal 22 Jan 2013, untuk rute Beijing-Tianjin pulang-pergi. Kereta ini di negeri asalnya sana disebut Bullet Train alias kereta peluru. Saya tidak tahu kenapa disebut peluru, mungkin karena bentuknya yang mirip peluru atau karena kecepatannya yang melesat bak peluru.

panel digital
panel digital

Ketika saya memasuki ruang tunggu stasiun, saya menemukan ruangan yang besar dan nyaman dengan udara yang dikondisikan. Karena saat itu musim dingin, ketika masuk stasiun badan merasa hangat. Ruang tunggunya seperti bandara-bandara besar di Indonesia seperti Juanda, Medan, atau Makassar yang terkesan modern. Di dalam stasiun kita bisa mengambil dengan cuma-cuma air dari sumber alami pegunungan Tibet yang sudah di-botolkan. Hhhhmmmmmm…. Mak cless, rasanya segar ketika mengalir di kerongkongan saya.

Ruang tunggu yang nyaman dengan banyak makanan di sekeliling menjadikan kita tidak merasa bosan menunggu. Petugas stasiun juga terlihat cakep dan cantik dengan pelayanan yang ramah dan tidak terkesan galak. Tidak ada yang teriak-teriak juga seperti di Stasiun Senen, “Senja Solo – Senja Solo” ketika waktunya Senja Solo boarding. Cukup melihat di sign board ataupun pengumuman lewat pengeras suara yang lembut. Sekitar 15 menit sebelum keberangkatan, kita disuruh boarding, sehingga tidak menunggu di peron yang bisa membahayakan penumpang.

ruang tunggu stasiun
ruang tunggu stasiun

Saat memasuki Kereta Cepat, saya tidak merasakan hal istimewa di dalamnya, semuanya terlihat biasa seperti halnya kereta api Bandara Kualanamu Medan, ada panel digital yang menjelaskan nomor gerbong, temperatur udara di luar, jam dan kecepatan laju kereta. Sebagai penikmat kereta api di Indonesia yang kadang ngolong, saya memperhatikan kursi penumpang, siapa tahu bisa ngolong juga hehehehe. Kursi tersebut menurut saya kurang rapi dalam penge-las-annya. Saya berpikir tidak sebanding kualitasnya dengan nama besar Bullet Train.

Tiket Kereta Cepat
Tiket – Harganya hanya CNY34.5 atau sekitar Rp115.000, sama dengan harga tiket kereta api ekonomi PSO di Indonesia

Setelah semua penumpang masuk gerbong dan duduk, kereta berangkat dengan pelan-pelan rasanya “mak kleser kleser”  dan tidak terasa gronjalan seperti naik kereta api biasa, tarikannya halus, dan gesekan antara roda kereta dengan relnya tidak ada. Ketika saya melihat ke panel digital, ternyata sudah menunjukkan kecepatan 147 km/jam lalu terus naik semakin cepat dan akhirnya berhenti di kecepatan maksimal waktu itu 288 km/jam. Dan sekali lagi saya tekankan nyaris tidak berasa kalau kereta ini melaju dengan cepat, tetap tenang, dan nyaman serta hangat. Walaupun suhu di luar menunjukkan dua derajat celcius di bawah nol.

petugas stasiun
petugas stasiun

Kereta peluru ini awalnya mampu melaju dengan kecepatan 400 km/jam. Namun karena faktor keamanan, saat ini hanya dioperasikan kecepatan maksimalnya 300km/jam saja. Beijing ke Tianjin yang berjarak 150 Km dilahap selama 30 menit perjalanan. Saya mengeluarkan biaya tiket CNY34.5 atau jika dirupiahkan hanya Rp115.000, harga yang pantas untuk kenyamanan dan kecepatannya. Selain harga tiket, di dalam tiket juga tercantum nama kereta, asal dan tujuan stasiun, tanggal dan waktu keberangkatan serta nomor identitas/paspor penumpang. Akankah kereta cepat Indonesia akan terealisasi? Barangkali saya bisa mencoba naik kereta yang sama untuk Jakarta–Bandung. Kita tunggu saja.

By Sholdip

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*