Kereta ‘Darurat Perang’ dan Orde Baru

Polsuska bentrok dengan pedagang
Polsuska bentrok dengan pedagang (sumber foto: solopos)
Polsuska bentrok dengan pedagang (sumber foto: solopos)

Malam itu Gentho hatinya dongkol tiada bertepi. Bagaimana tidak? Sedang enak-enaknya terbuai di alam mimpi, beberapa sosok bersepatu mirip tentara membangunkannya dengan sentuhan yang jauh dari kelembutan. Tiket keretanya diminta kemudian dituliskan ‘SP 1, tidur dijalan’. Dia dipresepsikan sebagai pelanggar aturan ‘Dilarang Tidur Di Lantai Kereta’. Saat malam kelabu itu terjadi, Gentho memang sedang asyik bobok manis melantai dibawah panel listrik kereta ekonomi jarak jauh. Sebuah aturan yang sebenarnya tidak pernah termaktub pada lembar tiket yang telah dibeli berbulan-bulan sebelumnya, bukan hasil ngemis apalagi nyolong.

Lain lagi dengan kisah Mbak Atta. Nawaitunya membeli makanan sekaligus menikmatinya di gerbong restorasi kereta berakhir dengan kelam. Saat sedang menunggu hidangan disajikan, datang seseorang berbaret khas militer menegurnya dengan irama menyakitkan hati. Berbagai argumen alasan yang dikemukakan berhadiah ancaman, “Oh, kamu ngeyel! Saya kasih kamu 10 menit, kalau belum kembali kekursimu, saya turunkan di stasiun berikutnya!”. Seseorag berbaret layaknya militer tersebut menganggap Mbak Atta tidak berada di kursi dan gerbong yang benar. Lagi-lagi peristiwa tersebut terjadi di kereta kelas ekonomi jarak jauh, kelas kereta untuk rakyat sesungguhnya, yang peng-amanah-annya terlidungi undang-undang.

Ada lagi nasib Pak Ngatimin. Sore itu kereta yang dinaikinya berhenti karena ada simpangan dengan kereta lain. Rasa bosan dan penat yang mungkin sedang berhalusinasi di otaknya, membuat pak Ngatimin berencana mengusirnya dengan menghirup asap tembakau kesukaan para Kyai NU. Beliau berjalan ke pintu kereta dengan posisi rokok yang belum terbakar terselip di bibir keriputnya. Tiba-tiba dari sisi luar menghujamlah satu suara kasar, “Merokok dibawah pak! Sekali lagi saya tau, Bapak saya turunkan!”. Pak Ngatimin kaget bukan kepalang. Beliau paham dengan aturan yang berlaku, rokok itu memang akan dinyalakan setelah Beliau keluar dari kereta, bukan didalam gerbong seperti asumsi petugas berseragam mirip militer tersebut. Beliau sangat menyesalkan dan berguman, “Apa harus dengan nada setinggi itu?”

Pendekatan militer dalam Polsuska (foto: inilah.com)
Pendekatan militer dalam Polsuska (foto: inilah.com)

Mas Yus, Pakde Darno, Mas Klowor dan Agus adalah kawan lama, ke-empatnya tersaudarakan setelah ikut rombongan pengguna kereta kelas ekonomi jarak jauh. Sudah jamak, mereka hampir selalu duduk di kursi yang bertetanggaan. Keakraban itu tersimbolkan melalu aktivitas main Gaple saat bersua di kursi kereta. Tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut, kecuali calon maling yang pasti akan merasa gelisah sebelum memulai aksinya apabila Mas Yus, dkk sedang ber-gaple ria. Namun penilaian aparat khusus Kereta berbeda, main Gaple atau apapun namanya harus diberangus. Bukan karena mendekati zina, melainkan hampir mencumbu pasal 303 KUHP tentang tindak pidana perjudian. Permainan Gaple persahabatan itu-pun harus berlaku dengan diam-diam.

Namanya cukup keren, Polisi Khusus Kereta (Polsuska). Menurut sumber dari salah satu komunitas penggemar kereta, kesatuan ‘entahlah’ ini sebenarnya telah dibentuk dari tahun 1971, saat itu personelnya adalah anggota Polri yang di-BKO-kan di PJKA, nama beken PT KAI saat itu. Seiring dengan berjalannya waktu, PJKA sendiri kerap berganti status kelamin yang membawa dampak pada eksistensi Polsuska, hingga akhirnya pada tahun 2004 secara de jure dihapuskan dari peta dunia. Hilangnya Polsuska hanya bertahan selama 2 tahun, karena pada tahun 2006, satuan tersebut ditinjau ulang keberadaanya dan diputuskan uantuk dihidupkan kembali hingga saat ini. Personelnya-pun cukup beragam, dan tentu saja aroma kuat militeristik benar-benar semakin menusuk hidung.

Polsuska latihan beladiri di bawah bimbingan Marinir AL
Polsuska latihan beladiri di bawah bimbingan Marinir AL (smber: situs KAI)

Prespektif lain yang perlu ditinjau tentu saja adalah terkait dengan tampilan lahiriah dari Polsuska itu sendiri. Badannya tegap-tegap dan aduhai mirip para aktor “laga” di sebuah sinetron nggilani perusak moral bangsa ‘7 Manusia Harimau’, bahkan yang asli anggota militer saja terlihat tidak ada apa-apanya. Seragamnya yang paling sering nampang, terlihat identik dengan seragam hitam-hitam milik kesatuan Brimob. Ditambah lagi, baret yang mereka kenakan mirip sekali dengan punya Paskhas, satuan elite TNI-AU. Tidak lupa perlengkapan tempur macam sangkur, pentungan, borgol, bahkan kadang kala, ada diantara personel tersebut diketahui menyelipkan senjata mirip pistol dipinggangnya, entah untuk mbedil siapa?

Dari segi kelengkapan lahiriah yang dimiliki oleh Polsuska, rasanya wajar dan tidak berlebihan jika beberapa pelanggan kereta beropini bahwa PT KAI sedang menetapkan status ‘Darurat Perang’. Ditambah peringai militer yang benar-benar diterapkan didalam perusahaan pelayanan transportasi publik berbingkai sipil tersebut. Tegas, keras dan tanpa kompromi. Apalagi jika yang dihadapi hanya para penumpang kereta kelas sudra, yang kadang kala untuk memperoleh tiketnya harus terlebih dulu berjuang berdarah-darah. Jiwa KAI-isme yang wajib diacungkan lima jempol pada pihak Polsuska, empat jempol milik sendiri dan yang satu minjam jempol teman.

Suasana di atas layaknya menjadi de javu bagi sebagian masyarakat. Bayang-bayang Era SDSB (Soedomo Datang Semua Beres) bertahun-tahun lampau kembali terbangun, saat Sang-Pangkokantib menjadi cakar tajam pembela kepentingan Mbah Harto dengan madzhab Orde Baru-nya. Ada sebuah guyonan becak’an waktu itu, “Kalau kamu mau mengutarakan cinta, jangan lupa minta ijin dulu ke Koramil terdekat!”. Agak sedikit berlebihan memang, bukan sebuah komparasi yang apple to apple. Bagaimana mungkin cengkeraman militeristik Kerajaan Orba bisa disandingkan dengan suatu kebijakan perusahaan Kereta. “Pemikiran Bung mbladur kemana-mana, bias, lebay dan ngawur”, sebuah kalimat pembelaan yang mungkin keluar dari lisan manis ‘Harmoko-nya’ PT Kereta.

Ibu Kota Negara, 28 Januari 2016
SBN

Facebook Comments

4 Comments

  1. Kalo saya melihat si polsus itu apakata mr. pak kp (kepala perjalanan) mas, mungkin suatu saat nanti pak kp suka gamplay pasti gak sembunyi lagi, asal dibuktikan gamplay just for fun.
    Jadi yg namanya polsus juga manusia yg cuma bekerja tergantung sama atasannya, semoga atasannya punya rasa pengertian karena kalo mr. pak kp yg adigung adiguna, menyuruh polsusnya “oprak-oprak” (membangunkan) orang tidur di bangku sendiri piye jal? emang ada peraturan kah kita harus tidur tetap dg posisi duduk ? contoh , kalo orang sakit wasir kan gak bisa kalo duduk lama.
    Atau kalo sudah berumur tidak bisa dipaksa tidurnya harus dg duduk, asal gak mengganggu ketertiban penumpang lain kan harusnya tidak masalah.
    Apalagi namanya KAJJ perjalanan malam hari wajar kalo memerlukan istirahat / tidur. just komen aja no offence peaCe. @penglajon wonogiri

  2. Polsuska bukannya ngamanin, menjaga keamanan barang2 penumpang dari pencurian, tapi malah mengurusi hal2 yg kurang penting, padhal masalah pencurian didalam gerbong masih terjadi..

  3. Pengalaman buruk pernah saya alami.
    Di kereta senja yogja jurusan jakarta-yogya, saya melakukan traveling dalam rangka bisnis bersama satu orang teman kantor. Kami terpaksa naik kereta karena saat itu tiket pesawat sold out.
    Tempat duduk kami terpisah kereta krn saat itu tidak ada tempat duduk bersebelahan yang available.
    Saat kereta sampai di sekitar Kebumen saya dan teman janjian untuk pindah tempat duduk ke kereta makan sekalian membeli kopi, siapa tau ada tempat untuk berdiskusi.
    Kami bawa tas ransel kami dan duduk ditempat yang kosong sambil minum kopi panas. Kami berdiskusi terkait pekerjaan yang akan kami lakukan setelah sampai di Yogya. Pagi itu begitu sampai Yogya kami harus meeting tentang sebuah proyek penting. Baru 10 menit kami duduk datang petugas polsuska tampak penuh curiga menanyakan tiket. Kami berikan tiket kami dari jakarta. Lalu petugas tersebut duduk tak jauh dr kami di kereta makan. Ditengah-tengah diskusi yang penting kami kembali menerima gangguan dari petugas polsuska tsb yang meminta kami kembali ke tempat duduk. Kami jelaskan bahwa kami penumpang terpisah tempat duduk dan perlu bertemu untuk berdiskusi. Petugas polsuska tersebut bersikeras tetap mengusir kami dari kereta makan. Padahal saya lihat tidak ada aturan pembatasan lama duduk di kereta makan dan masih ada beberapa tempat duduk yang kosong. Tidak ada alasan yang masuk akal yang disampaikan saat mengusir kami. Tidak mau memperpanjang urusan akhirnya kami mengalah untuk kembali ke kursi.
    Ketika kereta hampir sampai Yogya saya dan temen yg masih ada tanda tanya kembali ke kereta makan. Ternyata kami lihat tempat duduk tersebut digunakan oleh seorang petugas kereta dan polsuska tersebut.
    Kami lalu sadar apakah kalo cuma mau duduk apakah perlu sampai bersikeras mengusir penumpang, padahal msh ada tempat duduk kosong yang lain.

  4. Mas polsus, sebaiknya dibuktikan dengan data kalau memang ada komplain dari penumpang lain yang merasa terganggu, atau sebenarnya laporan dari “asokeli” asongan keliling, yang sepi pembeli di mlm hari sehingga mencari2 alasan buat membangunkan penumpang tidur tanpa rasa manusiawi (dibilang ngga bisa lewat).
    Teriakan tidak manusiawi anda saat “ngoprak2” juga mengganggu orang lain. Apakah seperti itu SOP nya? Kereta itu service yg diutamakan, mbok ya digunakan dgn bijaksana sekolah tingginya sampai ke militer2anisme nya, sudah bukan jamannya tarzan (Aaauuuooooo…). Jgn kyk anak SMP yg lulus kejar paket C kemudian teriak2 dan blayer2 knalpot ditengah jalan, menyalahkan kendaraan lain krn mengganggu disuruh minggir (ndona ndonaaa)..sementara dia lupa bawa cermin kl teriakan blayeran nya juga mengganggu…

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*